Manusia dan Belajar
Manusia dalam kenyataan hidupnya menunjukan bahwa ia membutuhkan suatu proses belajar yang memungkinkan dirinya untuk menyatakan eksistensinya secara utuh dan seimbang. Manusia tidak dirancang oleh Allah Swt untuk dapat hidup secara langsung tanpa proses belajar terlebih dahulu untuk memahami jati dirinya dan menjadi dirinya. Dalam proses belajar itu seseorang saling tergantung dengan orang lain. Proses belajar itu dimulai dengan orang terdekatnya. Proses belajar itulah yang kemudian menjadi basis pendidikan. Aktivitas pendidikan terkait dengan perubahan yang secara moral bersifat lebih baik, ciri perubahan atau kemajuan secara fundamental adalah terjadinya perkembangan internal diri manusia yaitu keimanan dan ketakwaan, bukan hanya perubahan eksternal yang cenderung bersifat material yang dapat menghancurkan keimanan dan ketakwaan manusia.
Dalam kehidupan moderen seperti sekarang ini, produk pendidikan sering hanya diukur dari perubahan eksternal yaitu kemajuan fisik dan material yang dapat meningkatkan pemuasan kebutuhan manusia. Masalahnya adalah bahwa manusia dalam memenuhi kebutuhan sering bersifat tidak terbatas, bersifat subjektif yang sering justru dapat menghancurkan harkat kemanusiaan yang paling dalam yaitu kehidupan ruhaninya.
Produk pendidikan berubah menghasilkan manusia yang cerdas dan terampil untuk melakukan pekerjaannya, tetapi tidak memiliki kepedulian dan perasaan terhadap sesama manusia. Ilmu pengetahuan yang dikembangkan menjadi instrumen kekuasaan dan kesombongan untuk memperdaya orang lain, kecerdikannya digunakan untuk menipu dan menindas orang lain, produk pendidikan berubah menghasilkan manusia yang serakah dan egoistik. Dalam kehidupan moderen sekarang ini telah terjadi distorsi nilai ruhaniyah, seolah-olah nilai kemanusiaan telah mati, alat-alat diubah menjadi tujuan, produksi dan konsumsi barang-barang menjadi tujuan hidup, sekarang ini banyak manusia menjadi sangat sulit untuk tergetar hatinya ketika disebut nama Allah Swt, tidak lagi merasa takut apabila disebutkan tentang azab neraka, ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak dapat membawa barakah dalam kehidupan manusia, padahal sesungguhnya sebuah pendidikan harus dapat menghidupkan kehidupan spiritual manusia, menumbuhkan suara kemanusiaan dan ketuhanan dalam suara batinnya, di samping mengembangkan manajerial untuk memenuhi kebutuhan objektifnya. Konsepsi keimanan dan ketakwaan belum dijabarkan ke dalam pengertian operasional kependidikan sehingga belum dapat diinternalisasikan melalui berbagai potensi kejiwaan yaitu potensi psikologis yang bercorak berkeselarasan antara akal kecerdasan dengan perasaan yang melahirkan prilaku yang akhlakul karimah dalam hidup berbangsa dan bernegara. (Arifin, 2000: 86)
Ketidakberhasilan tertanamnya nilai-nilai ruhaniyah (keimanan dan ketakwaan) terhadap peserta didik (murid) dewasa ini sangat terkait dengan dua faktor penting dalam proses pembelajaran di samping banyak faktor-faktor yang lain, kedua faktor tersebut adalah strategi pembelajaran serta orang yang menyampaikan pesan-pesan ilahiyah (guru). Dalam sistem pendidikan Islam seharusnya menggunakan metode pendekatan yang menyeluruh terhadap manusia, meliputi dimensi jasmani dan ruhani (lahiriyah dan batiniyah), di samping itu keberhasilan sebuah proses pembelajaran sangat ditunjang oleh kepribadian setiap penyampai pesan (guru). Selain strategi pembelajaran yang tidak tepat, sebagian guru juga biasanya kurang memahami pribadi manusia yang ingin ditumbuhkembangkan dan disempurnakan, mereka tidak sepenuhnya menyadari bahwa manusia pada dasarnya terdiri dari tubuh, akal dan perasaan. Guru juga biasanya memisahkan hakikat ilmu dari jiwa agama dan mengucilkan ilmu dari iman, padahal ilmu secara keseluruhan merupakan sebuah lingkaran mata rantai dalam mengenal Allah Swt dan berbagai rahasia ciptaan-Nya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar